Aku dan Sang Waktu

Tanpa kusadari di sudut hatiku masih terus tersimpan
Harapan tipis pada sang waktu
Namun ketika sang waktu telah tiba
“Ia” menyatakan akan menghapus perasaannya
Maka aku pun memutuskan
Menggali kenangan itu sendiri
Bukankah itu berarti aku telah bertekad,
Mencerminkan waktu pada perasaanku sendiri?
Karena aku sadar ada suatu titik mati
Yang membuatku harus menyerah
Aku memiliki kenangan dan diriku yang sekarang
Selamanya

Advertisements

Patah hati

Aku tak melihat apa – apa
Kecuali langit yang seolah kaca
Dan kini pecah menggemuruh
Aku hampir tak mengenali apa – apa
Kecuali teringat semua yang kini serpih
Yang dulu pernah utuh
Di sekitar kaki melangkah
Di sekitar aku mengaduh
Di sekitar almanak dan hari – hari hujan dalam potret
Tinggal sesuatu yang pecah, berhamburan
Aku memungut kepingan – kepingannya
Menyimpannya, Setelah sia – sia menyatukannya
Aku mengusap darah yang mengalir
Aku manahan kenangan yang membanjir
Aku meraba sebuah peta yang luntur
Seluruh jalan di dalamnya hancur
Aku tak melihat sesuatu pun
Kecuali luka yang berkilau
Ingin kulukis mata angin baru
Agar tak ada lagi barat, selatan, utara dan timur
Yang mengingatkanku pada masa lalu